Home Bisnis Bitcoin Dilarang Bank Indonesia? Jangan Panik, Ini Penjelasannya?

Bitcoin Dilarang Bank Indonesia? Jangan Panik, Ini Penjelasannya?

201
0
SHARE

Bank Indonesia selaku lembaga keuangan yang mengatur regulasi sistem pembayaran di Indonesia secara tegas melarang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran.  Bitcoin dilarang Bank Indonesia dengan alasan karena Bitcoin bukanlah mata uang yang memiliki regulator dan tidak memiliki aturan yang jelas. Selain itu larangan pembayaran menggunakan Bitcoin juga tertuang dalam Undang-Undang (UU) mata uang, bahwa alat pembayaran yang sah adalah Rupiah.

Bitcoin dilarang bank indonesia - Bitcoin Dilarang Bank Indonesia? Jangan Panik, Ini Penjelasannya?

Alasan Bitcoin Dilarang Bank Indonesia

Alasan-alasan ini saya kutip dari berbagai sumber yang merupakan pernyataan dari Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Eni V Panggabean.

1. Risiko Kriminal

Virtual currency seperti Bitcoin memiliki tingkat risiko yang tinggi dan dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. Bitcoin juga sangat memungkinkan dijadikan alat untuk pencucian uang, pendanaan terorisme dan merugikan konsumen.



Hal ini karena Bitcoin menyamarkan atau menyembunyikan identitas pelaku transaksinya sehingga sulit untuk di identifikasi.

Yang lebih parahnya lagi terdapat kasus kriminal yang terjadi adanya pencurian Bitcoin oleh sekelompok Hacker, yang kasusunya bukan hanya satu kali. Pihak kepolisian tidak bisa mengungkap kasus tersebut karena sulit untuk mengidentifikasi jejak transaksinya.

Baca Juga : Tokobitcoin Ditutup Terkait Larangan Pembayaran Bitcoin di Indonesia?

2. Lembaga Keamanan Tidak Ada

Bitcoin sebagai virtual currency sama sekali tidak memiliki best practice dan standar International untuk memastikan keamanan dan efisiensi penyelenggaraan. Jika dicontohkan pada Bank ada lembaga yang mengatur seperti BI, OJK, dan ada aturan basel I, II, dan III.

Oleh karena itu Bitcoin tidak diperbolehkan sebagai alat pembayaran karena sistem keamanannya tidak terjamin.

3. Tidak Bisa Menampung Keluhan

Bitcoin tidak memiliki pihak atau tempat untuk menangani keluhan dan komplain dari penggunanya. Jadi jika terjadi sesuatu dengan Bitcoin anda, ya sudah anda pasrah.

Padahal jika berbicara tentang virtual currency yang dijalankan menggunakan teknologi internet, pasti pada waktu tertentu pasti akan mengalami kendala dan lain-lain. Nah, jika kendala tersbeut terjadi pada anda sebagai pengguna Bitcoin maka akan komplain kemana? Karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab terhadap setiap keluhan.

4. Tidak Memiliki Entitas Sentral

Bitcoin juga dinilai tidak memiliki etintas sentral sebagai subyek pengaturan serta tidak terdapat pihak yang bertanggung jawab. Yang lebih membahyakan lagi adalah, harga Bitcoin sangat ditentukan oleh pasar atau tergantung dari supply dan demand. Ini jelas akan sangat merugikan konsumen.

5. Harga Tidak Stabil

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa harga Bitcoin tergantung dari pasar, antara supply dan demand. Tidak ada jaminan bisa ditukarkan dengan Fiat Money (uang kertas) apalagi dengan tingkat volatilitas harga yang tinggi.

Karena tidak kestabilan itulah, maka Bitcoin akan sangat merugikan pelaku bisnis dan konsumen yang menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayarannya.

Baca Juga : Faktor Yang Mempengaruhi Harga Bitcoin Secara Umum

Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya hingga saat ini Bitcoin hanya dilarang dalam hal sebagai alat pembayaran. Artinya, Bitcoin masih boleh beredar namun dengan catatan tidak digunakan sebagai alat pembayaran.

Larangan ini sebenarnya dikhususkan bagi perusahaan-perusahaan penyelenggara sistem pembayaran dan penyelenggara Teknologi finansial di Indonesia, baik Bank maupun non bank.

Namun, jika melihat dari beberapa alasan-alasan di atas, anda sebagai pengguna Bitcoin juga harus waspada terhadap Bitcoin. Terutama karena tingkat risikonya yang tinggi, dan anda harus siap dengan risiko-risiko yang akan dihadapi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here